ANALISIS
TEKS EKSPLANASI
Penyusun: Kelompok
6
1.
Aulia Firdausi (
05 / XI IPA 3 )
2.
Ika Risdianti (
14 / XI IPA 3 )
3.
Nur Faidah (
20 / XI IPA 3 )
4.
Puspita Ningrum A.P (
21 / XI IPA 3 )
SEKOLAH MENENGAH
ATAS (SMA)
SMA NEGERI 1 PEJAGOAN
2015
DAFTAR ISI
Halaman
Judul.........................................................................................................
i
Daftar
Isi.................................................................................................................
ii
A.
ANALISIS
TEKS EKSPLANASI........................................................... 1
1.
Teks banjir........................................................................................ 1
2.
Teks kekeringan............................................................................. 12
3.
Teks penyebab tanah longsor......................................................... 16
4.
Teks erosi....................................................................................... 25
B.
KEBAHASAAN...................................................................................... 29
1.
Konjungsi sebab............................................................................. 29
2.
Konjungsi akibat............................................................................ 29
3.
Konjungsi waktu............................................................................ 30
4.
Konjungsi internal.......................................................................... 30
5.
Konjungsi eksternal....................................................................... 32
6.
Verba material................................................................................ 33
7.
Verba selasional............................................................................. 34
8.
Kalimat simpleks............................................................................ 34
9.
Kalimat kompleks.......................................................................... 34
10.
Kata serapan ................................................................................. 35
C.
TUGAS
TEKS......................................................................................... 39
1.
Tugas 1........................................................................................... 39
2.
Tugas 2........................................................................................... 44
3.
Tugas 3..................................................................................... 48
D.
PERBANDINGAN
TEKS .................................................................... 58
A.
ANALISIS
TEKS
EKSPLANASI
1.
Teks Banjir
Banjir
Banjir
adalah fenomena alam yang bersumber dari curah hujan dengan intensitas tinggi
dan durasi lama pada daerah aliran sungai (DAS). Banjir terjadi karena sebab alam dan tindakan manusia. Penyebab alami banjir adalah erosi dan sedimentasi, curah hujan, pengaruh fisiografi/geofisik sungai, kapasitas
sungai,
drainase lahan, dan pengaruh air pasang. Penyebab banjir karena tindakan manusia adalah perubahan tata guna lahan, pembuangan sampah, kawasan padat penduduk di sepanjang sungai, dan kerusakan bangunan pengendali banjir.
Penyebab Alami Banjir
Sebagai akibat perubahan tata guna lahan, terjadi erosi sehingga sedimentasi masuk ke sungai dan daya tampung sungai menjadi berkurang. Hujan yang jatuh ke tanah airnya akan menjadi aliran permukaan (run-off) di atas tanah dan sebagian meresap ke dalam tanah, yang tentunya bergantung pada kondisi tanahnya. Ketika
suatu kawasan hutan diubah menjadi permukiman, hutan yang bisa menahan aliran permukaan cukup besar diganti menjadi permukiman dengan resistensi aliran permukaan kecil. Akibatnya ada aliran permukaan tanah menuju sungai dan hal ini berakibat adanya peningkatan debit aliran sungai yang besar. Apabila kondisi
tanahnya relatif tetap, air yang meresap ke dalam tanah akan relatif tetap. Faktor penutup lahan vegetasi cukup signifikan dalam pengurangan atau peningkatan aliran permukaan. Hutan yang lebat mempunyai tingkat penutup lahan yang tinggi
sehingga apabila hujan turun ke wilayah hutan tersebut, faktor penutup lahan ini akan memperlambat kecepatan aliran permukaan.
Curah hujan yang sangat lebat mempunyai tetes hujan besar. Karena tetes hujan berukuran besar, pori-pori permukaan tanah akan tertutup sehingga infiltrasi
air
hujan sangat kecil. Sebaliknya, limpasan air hujan menjadi
sangat besar.
Fisiografi atau geografi fisik sungai seperti bentuk, fungsi, dan kemiringan
daerah aliran sungai (DAS),
kemiringan sungai, geometrik hidrolik (bentuk penampang), dan lokasi sungai merupakan penyebab banjir dari segi fisiografi.
Pengurangan
kapasitas aliran banjir pada sungai disebabkan oleh
pengendapan yang berasal dari erosi DAS dan erosi tanggul sungai yang berlebihan dan sedimentasi di sungai itu karena tidak adanya vegetasi penutup dan adanya penggunaan lahan yang tidak tepat.
Akibat
adanya peningkatan jumlah penduduk, kebutuhan infrastruktur, terutama permukiman akan meningkat, sehingga mengubah sifat dan karakteristik tata guna lahan. Kecenderungan kapasitas saluran drainase menurun sehingga menyebabkan aliran permukaan meningkat. Drainase perkotaan dan pengembangan pertanian pada daerah banjir akan mengurangi kemampuan bantaran
dalam menampung debit air yang tinggi. Air pasang memperlambat aliran sungai ke laut. Pada waktu terjadi banjir bersamaan dengan air pasang tinggi, tinggi genangan air atau banjir menjadi besar karena terjadi aliran balik.
Penyebab Banjir karena Faktor
Sosial
Perubahan tata guna lahan merupakan penyebab utama
banjir dibandingkan dengan yang lainnya. Apabila suatu hutan yang berada dalam suatu aliran sungai
diubah menjadi permukiman, debit puncak sungai akan meningkat antara 6 sampai 20 kali(kalimat
kompleks). Angka 6 dan angka 20 ini bergantung pada jenis hutan dan jenis permukiman.(kalimat
simplek) Demikian pula untuk perubahan yang lainnya akan terjadi peningkatan debit puncak yang signifikan. Deforestasi, degradasi lingkungan dan pembangunan kota yang penuh dengan bangunan beton dan jalan-jalan aspal tanpa memperhitungkan drainase, daerah resapan, dan tanpa
memperhatikan data intensitas hujan dapat menyebabkan bencana alam banjir.
Pembuangan sampah di DAS membuat sungai tersumbat sampah.(kalimat
simplek) Jika air melimpah, air akan keluar dari sungai karena daya tampung saluran berkurang.
Kawasan padat penduduk di sepanjang sungai/drainase dapat menjadi penghambat aliran dan daya tampung sungai. Masalah kawasan kumuh dikenal sangat penting sebagai faktor sosial terhadap masalah banjir daerah perkotaan. Pemeliharaan kurang memadai pada bangunan pengendali banjir dapat menimbulkan kerusakan dan akhirnya tidak berfungsi dapat meningkatkan kuantitas banjir.
1.
Struktur
teks eksplanasi yang berjudul “ Banjir ”
1.
|
Pernyataan
Umum
|
Banjir adalah
fenomena alam yang bersumber dari curah hujan dengan intensitas tinggi dan
durasi lama pada daerah aliran sungai (DAS). Banjir terjadi karena sebab alam dan tindakan manusia.
Penyebab alami banjir adalah erosi dan sedimentasi, curah hujan, pengaruh
fisiografi/geofisik sungai, kapasitas sungai, drainase lahan, dan pengaruh air pasang. Penyebab
banjir karena tindakan manusia adalah perubahan tata guna lahan, pembuangan
sampah, kawasan padat penduduk di sepanjang sungai, dan kerusakan bangunan
pengendali banjir.
|
2.
|
Urutan
Sebab Akibat
|
Penyebab Alami Banjir
Sebagai akibat
perubahan tata guna lahan, terjadi erosi sehingga sedimentasi masuk ke sungai
dan daya tampung sungai menjadi
berkurang. Hujan yang jatuh
ke tanah airnya akan menjadi aliran permukaan (run-off)
di atas tanah dan sebagian meresap ke
dalam tanah, yang tentunya bergantung pada kondisi tanahnya. Ketika suatu kawasan hutan diubah menjadi permukiman, hutan
yang bisa menahan aliran permukaan cukup
besar diganti menjadi permukiman dengan resistensi aliran permukaan kecil.
Akibatnya ada aliran permukaan tanah menuju sungai dan hal ini berakibat adanya peningkatan debit
aliran sungai yang besar. Apabila kondisi tanahnya relatif tetap, air yang
meresap ke dalam tanah akan relatif tetap. Faktor penutup lahan vegetasi
cukup signifikan dalam pengurangan atau peningkatan aliran permukaan. Hutan
yang lebat mempunyai tingkat penutup lahan yang tinggi sehingga apabila hujan
turun ke wilayah hutan tersebut, faktor penutup lahan ini akan memperlambat
kecepatan aliran permukaan.
Curah hujan yang sangat lebat mempunyai tetes hujan besar.
Karena tetes hujan berukuran besar, pori-pori permukaan tanah akan tertutup
sehingga infiltrasi air hujan sangat kecil. Sebaliknya, limpasan air hujan
menjadi sangat besar.
Fisiografi atau
geografi fisik sungai seperti bentuk, fungsi, dan kemiringan daerah aliran
sungai (DAS), kemiringan sungai, geometrik hidrolik (bentuk penampang), dan
lokasi sungai merupakan penyebab banjir dari segi fisiografi.
Pengurangan kapasitas
aliran banjir pada sungai disebabkan oleh pengendapan yang berasal dari erosi
DAS dan erosi tanggul sungai yang
berlebihan dan sedimentasi di sungai itu karena tidak adanya vegetasi penutup
dan adanya penggunaan lahan yang tidak tepat.
Akibat adanya peningkatan jumlah penduduk, kebutuhan
infrastruktur, terutama permukiman akan meningkat, sehingga mengubah sifat
dan karakteristik tata guna
lahan. Kecenderungan kapasitas saluran drainase menurun sehingga
menyebabkan aliran permukaan meningkat. Drainase perkotaan dan
pengembangan pertanian pada daerah banjir akan mengurangi kemampuan bantaran
dalam menampung debit air yang tinggi. Air pasang memperlambat aliran sungai
ke laut. Pada waktu terjadi banjir bersamaan dengan air pasang tinggi, tinggi
genangan air atau banjir menjadi besar karena terjadi aliran balik.
|
3.
|
Urutan
Sebab Akibat
|
Penyebab Banjir karena Faktor Sosial
Perubahan tata guna
lahan merupakan penyebab utama banjir dibandingkan dengan yang
lainnya. Apabila suatu hutan yang
berada dalam suatu aliran sungai diubah menjadi permukiman, debit puncak
sungai akan meningkat antara 6 sampai 20 kali. Angka
6 dan angka 20 ini bergantung pada jenis hutan dan jenis permukiman. Demikian
pula untuk perubahan yang lainnya akan terjadi peningkatan debit puncak yang
signifikan. Deforestasi, degradasi lingkungan dan pembangunan kota yang penuh
dengan bangunan beton dan jalan-jalan aspal tanpa memperhitungkan drainase,
daerah resapan, dan tanpa memperhatikan data intensitas hujan dapat
menyebabkan bencana alam banjir.
Pembuangan sampah di
DAS membuat sungai tersumbat sampah. Jika air melimpah, air akan keluar dari
sungai karena daya tampung saluran berkurang.
Kawasan padat penduduk
di sepanjang sungai/drainase dapat menjadi penghambat aliran dan daya tampung
sungai. Masalah kawasan kumuh dikenal sangat penting sebagai faktor sosial
terhadap masalah banjir daerah perkotaan.
Pemeliharaan kurang memadai pada bangunan pengendali banjir
dapatmenimbulkan kerusakan dan akhirnya tidak berfungsi dapat meningkatkan
kuantitas banjir.
|
2.
Ciri ciri teks eksplanasi yang berjudul “ Banjir
”
1. Dari
segi isi :
1) Terdiri
dari dua keadaan/ peristiwa.
2)
Dua peristiwa tersebut memiliki hubungan
sebab akibat.
3) Menjelaskan
keadaan / peristiwa alam dan sosial.
4)
Strukturnya terdiri dari pernyataan
umum, lalu diikuti dengan urutan sebab akibat
2.
Dari segi bahasa :
1) Banyak
ditemukan konjungsi sebab.
2) Banyak
ditemukan konjungsi akibat.
3) Banyak
ditemukan kalimat yang menggunakan verba material.
4) Banyak
ditemukan kalimat yang menggunakan verba relasional.
5) Banyak
ditemukan konjungsi waktu yang menyatakan sebab.
6) Banyak
ditemukan konjungsi internal.
7) Banyak
ditemukan konjungsi eksternal.
3. Kebahasaan
teks eksplanasi yang berjudul “Banjir”
1. Konjungsi sebab
Contoh kalimat:
1. Banjir
terjadi karena alam dan tindakan
manusia.
2. Karena
tetes hujan berukuran besar, pori
pori permukaan tanah akan tertutup.
3. Jika
air melimpah, air akan keluar dari sungai sebab
daya tampung saluran berkurang.
2. Konjungsi Akibat
Contoh kalimat:
1.
Sebagai akibat perubahan tata guna
lahan, terjadi erosi sehingga sedimentasi masuk ke sungai dan daya
tampung sungai menjadi berkurang.
2.
Tetes hujan memiliki ukuran yang sangat
besar. Oleh karena itu, pori-pori
permukaan tanah tertutup.
3.
Kawasan padat penduduk di sepanjang
sungai pat menjadi penghambat aliran sungai. Oleh sebab itu, penting sebagai faktor social terhadap masalah banjir
daerah perkotaan.
3. Konjungsi Waktu
Contoh kalimat:
1.
Setelah
hujan turun berturut-turut tanpa henti, debit air sungai meningkat 30 % dari
debit air semula.
2.
Ketika
debit
air sungai melebihi air sungai, air akan meluap dan menabrak segala sesuatu
yang ada dihadapannya.
3.
Sejak
kejadian banjir kemarin, masyarakat tidak lagi membuang
sampah ke sungai.
4. Konjungsi
Internal
1.
5. Konjungsi
eksternal
1.
Perbandingan (
Contoh kalimat:
1. Aliran ini akan memasuki daerah tangkapan atau daerah aliran menuju kesistem
jaringan sungai.
2. Kecenderungan kapasitas seluran drainase menurun sehingga menyebabkan aliran permukaan
meningkat.
3. Air akan keluar dari sungai karena daya tampung saluran berkurang.
6. Verba Material
Contoh kalimat :
1.
Apabila kondisi tanahnya relatif tetap,
air yang meresap ke dalam tanah akan relatif tetap.
2.
Hujan yang jatuh ke tanah airnya
akan menjadi aliran permukaan (run-off) di atas tanah dan sebagian
meresap ke dalam tanah, yang tentunya bergantung pada kondisi tanahnya.
3.
Air akan meluap dari sungai, lalu menabrak segala sesuatu yang ada di hadapannya.
7. Verba Relasional
Contoh kalimat:
1. Pembuangan sampah di DAS membuat sungai tersumbat sampah.
2. Kedenderungan kapasitas saluran drainase menurun sehingga
menjadikan
aliran permukaan meningkat.
3. Pemeliharaan kurang memadai pada bangunan pengendali
banjir dapat menimbulkan kerusakan
yang parah.
Teks Kekeringan
1.
Struktur
teks eksplanasi yang berjudul “ Kekeringan ”
NO
|
STRUKTUR TEKS
|
PERISTIWA
|
1.
|
Pernyataan Umum
|
Kekeringan merupakan fenomena hidrologi yang paling kompleks,
perwujudan dan penambahan isu-isu berkaitan dengan iklim, tata guna lahan,
dan norma pemakaian air. Kompleksitas bertambah karena diketahui kekeringan
merupakan bencana dengan prosesnya berjalan lambat sehingga dikatakan sebagai
bencana merangkak. Kekeringan datang tidak tiba-tiba seperti banjir atau
gempa bumi , tetapi timbul perlahan-lahan sehingga sangat mudah diabaikan.
Tidak bisa diketahui secara pasti awal dan kapan bencana ini berakhir , tetapi semua baru sadar setelah berada di periode
tengahnya.
|
2.
|
Urutan
Sebab Akibat
|
Kekeringan diklasifikasikan menjadi dua: kekeringan alamiah
dan kekeringan antropogenik. Kekeringan alamiah terjadi akibat tingkat
curah hujan di bawah
normal dalam satu musim, kekurangan pasokan air
permukaan dan air tanah, kekurangan
kandungan air di dalam tanah sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan
tanaman tertentu pada periode waktu tertentu pada wilayah yang luas, pasokan komoditi ekonomi kurang dari kebutuhan
normal. Kekeringan
antropogenik adalah kekeringan yang disebabkan
oleh ketidakpatuhan pada aturan.
Kekeringan antropogenik terjadi karena kebutuhan air lebih
besar dari pasokan yang direncanakan akibat ketidak-patuhan pengguna terhadap
pola tanam/pola penggunaan air dan kerusakan kawasan tangkapan air,
sumber air akibat perbuatan manusia.
|
3.
|
Urutan
Sebab Akibat
|
Iklim
Kekeringan di Indonesia
sangat berkaitan dengan fenomena ENSO (El-Nino Southern Oscilation). El-Nino adalah kondisi abnormal iklim
yang mengakibatkan kemarau panjang. Pengaruh El-Nino lebih kuat pada
musim kemarau dibandingkan pada musim hujan. Pengaruh El-Nino pada keragaman
hujan memiliki beberapa pola, yakni akhir musim kemarau mundur dari normal;
awal masuk musim hujan
mundur dari normal; curah hujan musim kemarau turun tajam jika
dibandingkan dengan normal ; deret hari kering makin panjang, khususnya di
daerah Indonesia bagian timur.
|
4.
|
Urutan
Sebab-Akibat
|
Tata Guna Lahan
Semakin
meningkatnya jumlah luas lahan pertanian yang diubah menjadi permukiman dapat mengakibatkan semakin menurunnya
jumlah air resapan. Hal
ini mengakibatkan aliran permukaan meningkat.
Peningkatan ini menyebabkan air yang
seharusnya tertampung di dalam tanah menjadi terbawa aliran permukaan sehingga terjadi kekurangan pasokan air permukaan dan
air tanah.
|
5.
|
Urutan
Sebab-Akibat
|
Norma Pemakaian Air
Penggunaan air yang
berlebihan pada waktu musim tanam di lahan pertanian pada industri dan pada
rumah tangga menyebabkan menurunnya jumlah air padawaktu musim kemarau.
|
B.
Teks Tanah Longsor
1. Struktur Teks
eksplanasi yang berjudul “ Tanah Longsor ”
NO
|
STRUKTUR TEKS
|
PERISTIWA
|
1.
|
Pernyataan Umum
|
Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng dunia, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan lempeng India-Australia yang bergerak saling menumbuk. Akibat tumbukan antarlempeng tersebut, terbentuk
daerah yang memanjang di sebelah barat Pulau Sumatra, sebelah selatan Pulau Jawa, hingga ke Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara, sebelah utara Kepulauan Maluku, dan sebelah utara Papua. Konsekuensi lain dari tumbukan tersebut adalah terbentuknya palung samudra, lipatan, punggungan dan patahan di busur kepulauan, sebaran gunung
api, dan sebaran sumber gempa
bumi. Gunung api yang ada di Indonesia berjumlah
129 atau 13 persen dari jumlah gunung api aktif dunia. Dengan demikian, Indonesia rawan terhadap bencana letusan gunung api dan gempa bumi. Di beberapa pantai, dengan bentuk pantai sedang hingga curam, jika terjadi gempa bumi dengan sumber di dasar laut atau samudra,
dapat menimbulkan gelombang tsunami.
Jenis tanah pelapukan yang sering dijumpai di Indonesia
adalah hasil letusan gunung api. Tanah ini memiliki komposisi sebagian besar lempung dengan
sedikit
pasir dan bersifat subur. Tanah pelapukan yang
berada di atas batuan kedap air pada perbukitan/punggungan dengan kemiringan sedang hingga terjal, berpotensi mengakibatkan
tanah longsor pada musim hujan
dengan curah hujan berkuantitas tinggi. Jika perbukitan tersebut tidak ada tanaman keras berakar kuat dan dalam, kawasan tersebut rawan bencana tanah longsor.
Pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng lebih
besar daripada
gaya penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan tanah, sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya
sudut lereng, air, beban, serta berat jenis tanah/batuan.
|
2.
|
Urutan
Sebab Akibat
|
1.
Hujan
Ancaman tanah longsor biasanya
dimulai pada bulan November seiring
dengan meningkatnya intensitas hujan. Musim kering yang
panjang akan menyebabkan terjadinya penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah besar, lalu muncullah
pori-pori atau rongga tanah, kemudian terjadi retakan dan rekahan tanah di permukaan. Pada saat
hujan air akan menyusup ke
bagian yang retak. Tanah pun dengan cepat mengembang kembali. Pada awal
musim hujan kandungan air pada tanah menjadi jenuh dalam waktu singkat.
Hujan lebat pada awal
musim dapat menimbulkan longsor. Melalui tanah yang merekah itulah air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar lereng
sehingga menimbulkan gerakan lateral. Apabila ada pepohonan di permukaan, pelongsoran dapat dicegah karena air akan diserap oleh tumbuhan. Akar
tumbuhan juga berfungsi sebagai pengikat tanah.
|
3.
|
Urutan
Sebab Akibat
|
2.
Lereng Terjal
Lereng atau tebing yang terjal akan memperbesar gaya pendorong. Lereng
yang terjal terbentuk karena pengikisan air sungai, mata air, air laut, dan angin. Kebanyakan sudut lereng yang menyebabkan longsor adalah 180 apabila ujung lerengnya terjal dan bidang longsorannya mendatar.
|
4.
|
Urutan
Sebab Akibat
|
3.Tanah yang Kurang Padat dan Tebal
Jenis tanah yang kurang padat adalah tanah lempung atau tanah liat dengan
ketebalan lebih dari 2,5 meter dan sudut lereng >
220.
Tanah jenis ini memiliki potensi terjadinya tanah longsor, terutama bila terjadi hujan. Selain itu, jenis tanah ini sangat rentan terhadap pergerakan tanah karena menjadi lembek jika terkena air dan pecah jika udara terlalu panas.
|
5.
|
Urutan
Sebab-Akibat
|
4.Batuan yang Kurang
Kuat
Pada umumnya batuan endapan gunung api
dan batuan sedimen berukuran pasir dan campuran antara kerikil, pasir, dan lempung kurang kuat. Batuan tersebut akan mudah menjadi tanah jika
mengalami proses pelapukan dan pada umumnya rentan terhadap tanah longsor apabila terdapat pada lereng yang terjal.
|
6.
|
Urutan
Sebab-Akibat
|
5.Jenis Tata Lahan
Tanah longsor banyak terjadi di daerah tata lahan persawahan, perladangan, dan adanya
genangan air di lereng yang terjal. Pada lahan persawahan akar tanaman kurang kuat untuk mengikat butir tanah dan membuat tanah menjadi lembek
dan jenuh dengan air sehingga mudah terjadi longsor. Untuk daerah perladangan
penyebabnya adalah karena akar pohon tidak dapat menembus bidang longsoran yang dalam dan pada umumnya terjadi di daerah longsoran lama.
|
7.
|
Urutan
Sebab-Akibat
|
6.
Getaran
Getaran yang terjadi biasanya
diakibatkan oleh gempa bumi, ledakan, getaran
mesin, dan getaran lalu-lintas kendaraan. Akibat yang ditimbulkannya adalah tanah, badan jalan, lantai, dan dinding rumah menjadi retak.
|
8.
|
Urutan
Sebab-Akibat
|
7.
Susut Muka
Air Danau atau Bendungan
Akibat susutnya muka air yang cepat di danau, gaya penahan lereng menjadi hilang, dengan sudut kemiringan waduk 220 mudah terjadi longsoran dan penurunan tanah yang biasanya diikuti oleh retakan.
|
9.
|
Urutan
Sebab-Akibat
|
8.
Adanya Beban Tambahan
Adanya beban tambahan seperti beban bangunan pada
lereng dan kendaraan
akan memperbesar gaya
pendorong terjadinya longsor, terutama di sekitar tikungan jalan pada daerah lembah. Akibatnya adalah sering terjadi penurunan tanah dan retakan yang arahnya ke lembah.
|
10.
|
Urutan
Sebab-Akibat
|
9.
Pengikisan/Erosi
Pengikisan banyak disebabkan oleh air sungai ke arah tebing. Selain itu, akibat penggundulan hutan di sekitar tikungan sungai, tebing akan menjadi terjal.
|
11.
|
Urutan
Sebab-Akibat
|
10.
Adanya Material Timbunan pada Tebing
Untuk mengembangkan dan memperluas lahan permukiman umumnya dilakukan pemotongan tebing dan penimbunan lembah. Tanah timbunan pada lembah tersebut belum terpadatkan sempurna seperti tanah asli
yang berada di bawahnya. Sehingga apabila hujan akan terjadi penurunan tanah yang kemudian diikuti dengan retakan tanah.
|
12.
|
Urutan
Sebab-Akibat
|
11.
Bekas Longsoran Lama
Longsoran lama pada umumnya terjadi selama dan setelah terjadi pengendapan material gunung api pada lereng yang relatif terjal atau pada saat atau sesudah terjadi patahan kulit bumi. Bekas longsoran lama memilki ciri: adanya tebing terjal yang panjang melengkung membentuk tapal kudal; umumnya dijumpai mata air, pepohonan yang
relatif tebal karena tanahnya gembur dan subur; daerah badan longsor bagian atas umumnya relatif landai; dijumpai longsoran kecil, terutama pada tebing lembah; dijumpai tebing-tebing relatif terjal yang
merupakan bekas longsoran kecil pada longsoran
lama; dijumpai alur lembah dan pada
tebingnya dijumpai retakan dan longsoran kecil; longsoran lama ini cukup luas.
Bidang tidak sinambung ini memiliki ciri: bidang perlapisan batuan; bidang kontak antara tanah penutup dan batuan dasar; bidang kontak antara batuan yang retak-retak dan batuan yang
kuat; bidang kontak antara batuan yang
dapat melewatkan air dan batuan yang tidak melewatkan air (kedap air); bidang kontak antara
tanah
yang lembek dan tanah yang padat; bidang-bidang tersebut merupakan bidang lemah dan dapat berfungsi sebagai bidang luncuran tanah longsor.
|
14.
|
Urutan
Sebab-Akibat
|
13. Penggundulan Hutan
Tanah longsor pada umumnya banyak terjadi di daerah yang relatif
gundul karena
pengikatan air tanah sangat kurang.
|
15.
|
Urutan
Sebab-Akibat
|
14. Daerah Pembuangan Sampah
Penggunaan lapisan tanah yang rendah untuk pembuangan sampah dalam jumlah banyak dapat mengakibatkan tanah longsor, apalagi ditambah dengan
guyuran hujan, seperti yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Leuwigajah di Cimahi. Bencana ini menyebabkan sekitar 120 orang lebih
meninggal.
|
C.
Teks Erosi
1.
Struktur
teks eksplanasi yang berjudul “ Erosi
”
NO
|
STRUKTUR TEKS
|
PERISTIWA
|
1.
|
Pernyataan Umum
|
Erosi adalah suatu proses atau peristiwa hilangnya
lapisan permukaan tanah atas, baik disebabkan oleh pergerakan air maupun
angin. Erosi merupakan tiga proses yang berurutan, yaitu pelepasan partikel
tunggal dari massa tanah, pengangkutan oleh media yang erosif seperti aliran
air dan angin, dan pengendapan bahan-bahan tanah oleh penyebab erosi, pada kondisi
ketika energi yang tersedia tidak cukup lagi untuk mengangkut partikel. Di
daerah-daerah tropis yang lembab seperti di Indonesia, air merupakan penyebab
utama terjadinya erosi, sedangkan untuk daerah-daerah panas yang kering,
angin merupakan faktor penyebab utamanya.
|
2.
|
Urutan
Sebab Akibat
|
Percikan air hujan merupakan media utama pelepasan partikel tanah pada
erosi yang disebabkan oleh air. Pada saat butiran air hujan mengenai permukaan tanah yang gundul,
partikel tanah terlepas dan terlempar ke udara. Karena gravitasi bumi,
partikel tersebut jatuh kembali ke bumi. Pada lahan miring partikel tanah
tersebar ke arah bawah searah lereng. Partikel tanah yang terlepas akan
menyumbat pori-pori tanah. Percikan air hujan juga menimbulkan pembentukan
lapisan tanah keras pada lapisan permukaan. Hal ini mengakibatkan menurunnya
kapasitas dan laju infiltrasi tanah. Pada kondisi ketika intensitas hujan
melebihi laju infiltrasi, akan terjadi genangan air di permukaan tanah, yang
kemudian akan menjadi aliran permukaan. Aliran permukaan ini menyediakan
energi untuk mengangkut partikel yang terlepas, baik oleh percikan air hujan
maupun oleh adanya aliran permukaan itu sendiri. Pada saat energi aliran
permukaan menurun dan tidak mampu lagi mengangkut partikel tanah yang
terlepas, partikel tanah tersebut akan mengendap baik untuk sementara maupun
tetap.
|
3.
|
Urutan
Sebab Akibat
|
Proses pengendapan sementara terjadi pada lereng yang
bergelombang, yaitu bagian lereng yang cekung akan menampung endapan partikel
yang hanyut untuk sementara dan pada hujan berikutnya endapan ini akan
terangkut kembali menuju dataran rendah atau sungai. Pengendapan akhir
terjadi pada kaki bukit yang relatif datar, sungai, dan waduk. Pada daerah aliran sungai, partikel dan
unsur hara yang larut dalam aliran permukaan akan mengalir dan mengendap ke
sungai dan waduk sehingga menyebabkan pendangkalan.
|
4.
|
Urutan
Sebab-Akibat
|
Besarnya erosi bergantung pada kuantitas suplai
material yang terlepas dan kapasitas media pengangkut. Jika media pengangkut mempunyai kapasitas lebih besar daripada suplai
material yang terlepas, proses erosi dibatasi oleh pelepasan. Sebaliknya,
jika kuantitas suplai materi melebihi kapasitas, proses erosi dibatasi oleh
kapasitas.
|
KEBAHASAAN
1.
Konjungsi sebab
Konjungsi
sebab adalah konjungsi
yang menyatakan sebab.
Contoh kalimat :
1. Apabila ada pepohonan di permukaan, pelongsoran dapat
dicegah sebab air akan diserap oleh
tumbuhan.
2. Lereng yang terjal terbentuk karena pengikisan air sungai, mata air, air laut, dan angin.
3. Kekeringan antropogenik terjadi karena kebutuhan air lebih besar dari pasokan yang direncanakan.
2.
Konjungsi akibat
Konjungsi
akibat adalah konjungsi
yang menyatakan akibat.
Contoh kalimat :
1. Melalui tanah yang merekah itulah air akan masuk dan
terakumulasi di bagian dasar lereng sehingga
menimbulkan gerakan lateral.
2. Sebagai akibat perubahan tata guna lahan, terjadi erosi sehingga sedimentasi masuk sungai dan
daya tampung sungai menjadi berkurang.
3. Akibat adanya peningkatan jumlah penduduk, kebutuhan
infrastruktur, terutama pemukiman akan meningkat, sehingga mengubah sifat dan karakteristik tata guna lahan.
4. Oleh
sebab itu, ada aliran
pemukiman tanah menjadi sungai dan hal ini berakibatkan adanya peningkatan
debit aliran sungai yang besar.
5. Kekeringan alamiah terjadi akibat tingkat hujan dibawah
normal sehingga tidak mampu memenuhi
kebutuhan tanah tertentu.
3.
Konjungsi waktu
Konjungsi
waktu adalah konjungsi
yang menyatakan waktu.
Contoh kalimat :
1. Musim kering yang panjang akan menyebabkan terjadinya
penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah besar, lalu muncullah pori-pori atau rangka tanah.
2. Kemudian terjadi retakan dan rekahan tanah dipermukaan.
3. Longsoran lama pada umumnya terjadi selama dan setelah terjadi pengendapan material
gunung api pada lereng yang relatif terjal.
4. Air tidak akan surut, sebelum adanya upaya dari pemerintah.
5. Pertama, hujan turun dengan intensitas tinggi kemudian air hujan
yang jatuh di daerah yang kurang resapan akan terjadi banjir.
4.
Konjungsi internal
Konjungsi internal merupakan konjungsi yang menghubungkan argumen atau ide
yang terdapat di antara dua klausa simpleks atau dua kelompok klausa.
Contoh kalimat :
1.
Perbandingan
(akan tetapi,
sebaliknya, sementara itu, di sisi lain)
1.
Pada daerah yang kering air
merupakan faktor yang sangat diperlukan, sebaliknya
pada daerah yang kelebihan air, bisa jadi air merupakan hal berbahaya.
2.
Kekeringan mungkin tidak bisa
ditangani secara langsung akan tetapi, bisa
dicegah dengan cara menghemat air.
3.
Indonesia merupakan Negara dengan
jumlah penduduk yang terbanyak ke-4 didunia.
Sementara itu, pesatnya pertumbuhan penduduk bisa saja tidak diimbangi
dengan pesatnya sarana social.
2.
Penambahan
1. Tanah
longsor bisa saja menyebabkan trauma bagi para korban. Selain itu, para korban juga mendapat kerugian yang cukup besar.
2. Indonesia
merupakan Negara dengan jumlah perokok terbanyak ke-3 di dunia. Disamping itu, jumlah perokok bisa saja
terus bertambah setiap tahunnya.
3. Pemerintah
mewaspadai adanya bakteri berbahaya pada buah apel inport. Lebih lanjut, pemerintah mungkin akan melakukan operasi penjual
buah pada pasar terbuka.
3.
Waktu
1. Bencana
telah usai, lalu mereka akan mencoba
untuk membangun rumah mereka kembali.
2. Tanah
longsor menghantam rumah-rumah, berikutnya
para wargapun menjerit melihatnya.
3. Pertama,
hujan turun ke bumi dan air akan mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat
yang rendah.
4.
Sebab
akibat
1.
Melukai atau mengikatkan batang pohon
dengan kawat mungkin saja bisa menghambat pertumbuhan pohon akibatnya pohon sulit berbuah.
2.
Makanan yang dijual dijalanan mungkin
saja mengandung banyak zat berbahaya
hasilnya banyak orang yang terserang penyakit.
3. Bencana
tanah longsor yang terjadi saat ini sangatlah parah. Sebagai akibatnya pemerntah harus mengerahkan personil tim SAR
sebanyak lima puluh orang.
5.
Konjungsi eksternal
Konjungsi eksternal merupakan konjungsi yang menghubungkan dua peristiwa, deskripsi
benda, atau kualitas di dalam klausa kompleks atau antara dua klausa simpleks.
Contoh kalimat :
1.
2. Proses pengambilan air oleh akar tanaman dan penguapan dari dalam tanah. ( penambahan )
3. Aliran ini akan memasuki daerah tangkapan atau daerah aliran menuju kesistem
jaringan sungai. ( penambahan )
4. Jika temperatur udara turun sampai di bawah 00 celcius,
butiran air akan berubah menjadi salju. (sebab
akibat)
5. Tidak bisa diketahui secara pasti awan dan kapan bencana
ini berakhir, tetapi semua baru
sadar setelah berada di periode tengahnya. (perbandingan)
6. Tanah longsor pada umumnya banyak terjadi di daerah yang
relatif gundul karena pengikatan air
tanah sangat kurang. ( sebab akibat )
4.
waktu
5. Sebelum
pencarian korban Air Asia mencapai titik temu, bisa saja pencarian akan
dihentikan.
Setelah bencana longsor terjadi di Banjarnegara,
banyak pihak yang merasa empati dan akhirnya memberikan bantuan kepada para
korban
6.
Verba Material
Verba
material adalah kata kerja
yang menyatakan perbuatan fisik atau peristiwa.
Contoh kalimat :
1. Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng dunia,
yaitu lereng Eurasia, lempeng Pasifik dan lempeng India-Australia yang bergerak saling menumbuk.
2. Pada saat hujan air akan menyusup kebagian yang retak.
3. Kekeringan merupakan bencana yang datang secara spontan dan perlahan-lahan sehingga sangat mudah
diabaikan.
4. Apabila kondisi tanahnya relafif tetap, air yang meresap ke dalam tanah akan relatif
tetap.
5. Dalam sistem sungai aliran mengalir dari sistem
sungai kecil kesistem sungai yang besar.
7.
Verba Relasional
Verba relasional
adalah kata kerja yang menunjukkan
hubungan sebab-akibat.
Contoh kalimat :
1. Kedenderungan kapasitas saluran drainase menurun sehingga
menyebabkan aliran permukaan
meningkat.
2. Pembuangan sampah di DAS membuat sungai tersumbat sampah.
3. Pemeliharaan kurang memadai pada bangunan pengendali
banjir dapat menimbulkan kerusakan
yang parah.
4. El-Nino adalah kondisi abnormal iklim yang mengakibatkan kemarau panjang.
5. Temperatur yang berada di bawah titik beku mengakibatkan
kristal es terbentuk.
8.
Kalimat Simpleks
Kalimat simpleks adalah klausa yang terdiri atas satu verba utama yang menggambarkan
aksi, peristiwa, atau keadaan.
Contoh kalimat :
1. Hujan lebat pada awal musim dapat menimbulkan longsor.
2. Pada saat hujan air akan
menyusup ke bagian yang retak.
3. Air pasang memperlambat
aliran sungai ke laut.
4. Sebaliknya, limpusan air hujan menjadi sangat besar.
5. Kekeringan antropogenik disebabkan oleh manusia.
9.
Kalimat Kompleks
Kalimat kompleks adalah kalimat yang terdiri atas lebih dari satu aksi,
peristiwa, atau keadaan sehingga mempunyai lebih dari satu verba utama dalam
lebih dari satu struktur.
Contoh kalimat :
1. Pada saat hujan air akan
menyusup ke bagian yang retak dan tanah pun dengan cepat mengembang kembali.
2. Bantuan tersebut akan
mudah menjadi tanah jika mengalami proses
pelapukan dan pada umumnya rentah terhadap
tanah longsor apabila terdapat pada
lereng yang terjal.
3. Lereng yang terjal terbentuk
karena pengikisan air sungai, mata
air, air laut, dan angin.
4. Butir-butir air terjadi karena tetesan air kecil ( tiny droplet ) yang timbul akibat
kondensasi berbenturan dengan
tetesan air lainya.
5. Butiran-butiran air yang turun ke bumi disebut dengan hujan, jika temperatur udara turun sampai dibawah 00
celcius, butiran-butiran air akan
menjadi salju.
10. Kata
Serapan
Kata
serapan adalah kata yang
berasal dari bahasa lain (bahasa daerah/bahasa luar negeri) yang kemudian
ejaan, ucapan, dan tulisannya disesuaikan dengan penuturan masyarakat Indonesia
untuk memperkaya kosa kata.
Contoh kalimat :
1. Kekeringan merupakan proses hidrologi yang paling kompleks. Kompleks artinya mengandung beberapa unsur yang pelik, rumit, sulit,
dan saling berbubungan.
2. Akibat kekeringan, pasokan komoditi ekonomi kurang dari kebutuhan normal. Komodit artinya barang dagangan utama / benda niaga.
3. Tanah ini memiliki komposisi
sebagian besar lempung dengan sedikit pasir dan bersifat subur. Komposisi artinya susunan atau tata susun.
4. Faktor penutup lahan vegetasi
cukup signifikan dalam pengurangan atau peningkatan aliran permukaan.Vegetasi artinya kehidupan dunia tumbuh-tumbuhan
atau dunia tanam-tanaman.
5. Pada kondisi ketika intensitas hujan melebihi laju infiltrasi, akan terjadi genangan air
di permukaan tanah, yang kemudian akan menjadi aliran permukaan. Infiltrasi artinya penyusupan atau
perembesan
Fenol
// /// senyawa Kristal beracun yang
terdapat didalam hasil pembakaran karang atau kayu ..
.
gastritis // peradangan selaput lender pada lambung
.
industri // kegiatan memproses atau mengolah barang dengan menggunakan sarana
dan peralatan
.
infeksi // terkena hama, kemasukan bibit penyakit, ketularan penyakit.
.
iritasi // gangguan, perangsangan.
.
konspirasi // komplotan, persekongkolan.
.
krisis // keadaan yang berbahaya.
.
prasarana // segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terlaksananya suatu
proses. ( usaha, pembangunan, proyek, dsb)
.
psikis // yang berhubungan dengan psike.
. volume // isi
atau besarnbya benda di ruang.
Buset Anak Rajin
BalasHapusGood
BalasHapus