Rabu, 02 November 2016

contoh analisis teks eksplanasi



ANALISIS TEKS EKSPLANASI



 






Penyusun: Kelompok 6
1.                  Aulia Firdausi                         ( 05 / XI IPA 3 )
2.                  Ika Risdianti                           ( 14 / XI IPA 3 )
3.                  Nur Faidah                              ( 20 / XI IPA 3 )
4.                  Puspita Ningrum A.P              ( 21 / XI IPA 3 )


SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
SMA NEGERI 1 PEJAGOAN
2015



DAFTAR ISI
Halaman Judul......................................................................................................... i
Daftar Isi................................................................................................................. ii
A.    ANALISIS TEKS EKSPLANASI........................................................... 1
1.      Teks banjir........................................................................................ 1
2.      Teks kekeringan............................................................................. 12
3.      Teks penyebab tanah longsor......................................................... 16
4.      Teks erosi....................................................................................... 25
B.     KEBAHASAAN...................................................................................... 29
1.      Konjungsi sebab............................................................................. 29
2.      Konjungsi akibat............................................................................ 29
3.      Konjungsi waktu............................................................................ 30
4.      Konjungsi internal.......................................................................... 30
5.      Konjungsi eksternal....................................................................... 32
6.      Verba material................................................................................ 33
7.      Verba selasional............................................................................. 34
8.      Kalimat simpleks............................................................................ 34
9.      Kalimat kompleks.......................................................................... 34
10.  Kata serapan ................................................................................. 35
C.    TUGAS TEKS......................................................................................... 39
1.      Tugas 1........................................................................................... 39
2.      Tugas 2........................................................................................... 44
3.      Tugas 3..................................................................................... 48
D.    PERBANDINGAN TEKS .................................................................... 58



A.   ANALISIS TEKS EKSPLANASI

1.     Teks Banjir
Banjir

Banjir adalah fenomena alam yang bersumber dari curah hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama pada daerah aliran sungai (DAS). Banjir terjadi karena sebab alam dan tindakan manusia. Penyebab alami banjir adalah erosi dan sedimentasi, curah hujan, pengaruh fisiografi/geofisik sungai, kapasitas sungai, drainase lahan, dan pengaruh air pasang. Penyebab banjir karena tindakan manusia adalah perubahan tata guna lahan, pembuangan sampah, kawasan padat penduduk di sepanjang sungai, dan kerusakan bangunan pengendali banjir.
                  Penyebab Alami Banjir
Sebagai akibat perubahan tata guna lahan, terjadi erosi sehingga sedimentasi masuk ke sungai dan daya tampung sungai menjadi  berkurang. Hujan yang jatuh ke tanah airnya akan menjadi aliran permukaan (run-off) di atas tanah dan sebagian meresap ke dalam tanah, yang tentunya bergantung pada kondisi tanahnya. Ketika suatu kawasan hutan diubah menjadi permukiman, hutan yang bisa menahan aliran permukaan cukup besar diganti menjadi permukiman  dengan resistensi aliran permukaan kecil. Akibatnya ada aliran permukaan tanah menuju sungai dan hal ini berakibat adanya peningkatan debit aliran sungai yang besar. Apabila kondisi tanahnya relatif tetap, air yang meresap ke dalam tanah akan relatif tetap. Faktor penutup lahan vegetasi cukup signifikan dalam pengurangan atau peningkatan aliran permukaan. Hutan yang lebat mempunyai tingkat penutup lahan yang tinggi sehingga apabila hujan turun ke wilayah hutan tersebut, faktor penutup lahan ini akan memperlambat kecepatan aliran permukaan.
Curah hujan yang sangat lebat mempunyai tetes hujan besar. Karena tetes hujan berukuran besar, pori-pori permukaan tanah akan tertutup sehingga infiltrasi air hujan sangat kecil. Sebaliknya, limpasan air hujan menjadi sangat besar. Fisiografi atau geografi fisik sungai seperti bentuk, fungsi, dan kemiringan daerah aliran sungai (DAS), kemiringan sungai, geometrik hidrolik (bentuk penampang), dan lokasi sungai merupakan penyebab banjir dari segi fisiografi.
Pengurangan  kapasitas aliran banjir pada sungai disebabkan oleh pengendapan yang berasal dari erosi DAS dan erosi tanggul sungai yang berlebihan dan sedimentasi di sungai itu karena tidak adanya vegetasi penutup dan adanya penggunaan lahan yang tidak tepat.
Akibat adanya peningkatan jumlah penduduk, kebutuhan infrastruktur, terutama permukiman akan meningkat, sehingga mengubah sifat dan karakteristik tata guna lahan. Kecenderungan kapasitas saluran drainase menurun  sehingga menyebabkan aliran permukaan meningkat. Drainase perkotaan dan pengembangan pertanian  pada daerah banjir akan mengurangi kemampuan  bantaran  dalam menampung debit air yang tinggi. Air pasang memperlambat aliran sungai ke laut. Pada waktu terjadi banjir bersamaan dengan air pasang tinggi, tinggi genangan air atau banjir menjadi besar karena terjadi aliran balik.
Penyebab Banjir karena Faktor Sosial
Perubahan tata guna lahan merupakan penyebab utama banjir dibandingkan dengan yang lainnya. Apabila suatu hutan yang berada dalam suatu aliran sungai diubah menjadi permukiman,  debit puncak sungai akan meningkat antara 6 sampai 20 kali(kalimat kompleks). Angka 6 dan angka 20 ini bergantung pada jenis hutan  dan jenis permukiman.(kalimat simplek) Demikian pula untuk perubahan yang lainnya akan terjadi peningkatan debit puncak yang signifikan. Deforestasi, degradasi lingkungan dan pembangunan  kota yang penuh dengan bangunan beton dan jalan-jalan aspal tanpa memperhitungkan drainase, daerah resapan, dan tanpa memperhatikan data intensitas hujan dapat menyebabkan bencana alam banjir.
Pembuangan sampah di DAS membuat sungai tersumbat sampah.(kalimat simplek) Jika air melimpah, air akan keluar dari sungai karena daya tampung saluran berkurang. Kawasan padat penduduk  di sepanjang sungai/drainase dapat menjadi penghambat aliran dan daya tampung sungai. Masalah kawasan kumuh dikenal sangat penting sebagai faktor sosial terhadap masalah banjir daerah perkotaan. Pemeliharaan kurang memadai pada bangunan pengendali banjir dapat menimbulkan  kerusakan dan akhirnya tidak berfungsi dapat meningkatkan kuantitas banjir.



1.      Struktur teks eksplanasi yang berjudul “ Banjir ”
1.
Pernyataan Umum

Banjir adalah fenomena alam yang bersumber dari curah hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama pada daerah aliran sungai (DAS). Banjir terjadi karena sebab alam dan tindakan manusia. Penyebab alami banjir adalah erosi dan sedimentasi, curah hujan, pengaruh fisiografi/geofisik sungai, kapasitas sungai, drainase  lahan, dan pengaruh air pasang. Penyebab banjir karena tindakan manusia adalah perubahan tata guna lahan, pembuangan sampah, kawasan padat penduduk di sepanjang sungai, dan kerusakan bangunan pengendali banjir.
2.
Urutan
Sebab Akibat

Penyebab Alami Banjir
Sebagai akibat perubahan tata guna lahan, terjadi erosi sehingga sedimentasi  masuk ke sungai dan daya tampung sungai menjadi  berkurang. Hujan yang jatuh ke tanah airnya akan menjadi aliran permukaan (run-off) di atas tanah dan sebagian meresap ke dalam tanah, yang tentunya bergantung pada kondisi tanahnya. Ketika suatu kawasan hutan diubah menjadi permukiman, hutan yang bisa menahan aliran permukaan cukup besar diganti menjadi permukiman dengan resistensi aliran permukaan kecil. Akibatnya ada aliran permukaan tanah menuju sungai dan hal  ini berakibat adanya peningkatan debit aliran sungai yang besar. Apabila kondisi tanahnya relatif tetap, air yang meresap ke dalam tanah akan relatif tetap. Faktor penutup lahan vegetasi cukup signifikan dalam pengurangan atau peningkatan aliran permukaan. Hutan yang lebat mempunyai tingkat penutup lahan yang tinggi sehingga apabila hujan turun ke wilayah hutan tersebut, faktor penutup lahan ini akan memperlambat kecepatan aliran permukaan.
Curah hujan yang sangat lebat mempunyai tetes hujan besar. Karena tetes hujan berukuran besar, pori-pori permukaan tanah akan tertutup sehingga infiltrasi air hujan sangat kecil. Sebaliknya, limpasan air hujan menjadi sangat besar.
 Fisiografi atau geografi fisik sungai seperti bentuk, fungsi, dan kemiringan daerah aliran sungai (DAS), kemiringan sungai, geometrik hidrolik (bentuk penampang), dan lokasi sungai merupakan penyebab banjir dari segi fisiografi.
 Pengurangan kapasitas aliran banjir pada sungai disebabkan oleh pengendapan yang berasal dari erosi DAS dan  erosi tanggul sungai yang berlebihan dan sedimentasi di sungai itu karena tidak adanya vegetasi penutup dan adanya penggunaan lahan yang tidak tepat.
Akibat adanya peningkatan jumlah penduduk, kebutuhan infrastruktur, terutama permukiman akan meningkat, sehingga mengubah sifat dan karakteristik tata guna lahan. Kecenderungan kapasitas saluran drainase menurun sehingga
menyebabkan aliran permukaan meningkat. Drainase perkotaan dan pengembangan pertanian pada daerah banjir akan mengurangi kemampuan bantaran dalam menampung debit air yang tinggi. Air pasang memperlambat aliran sungai ke laut. Pada waktu terjadi banjir bersamaan dengan air pasang tinggi, tinggi genangan air atau banjir menjadi besar karena terjadi aliran balik.
3.
Urutan
Sebab Akibat

Penyebab Banjir karena Faktor Sosial
 Perubahan tata guna lahan merupakan penyebab utama banjir dibandingkan  dengan yang lainnya. Apabila suatu hutan yang berada dalam suatu aliran sungai diubah menjadi permukiman, debit puncak sungai akan meningkat antara 6 sampai 20 kali. Angka 6 dan angka 20 ini bergantung pada jenis hutan dan jenis permukiman. Demikian pula untuk perubahan yang lainnya akan terjadi peningkatan debit puncak yang signifikan. Deforestasi, degradasi lingkungan dan pembangunan kota yang penuh dengan bangunan beton dan jalan-jalan aspal tanpa memperhitungkan drainase, daerah resapan, dan tanpa memperhatikan data intensitas hujan dapat menyebabkan bencana alam banjir.
 Pembuangan sampah di DAS membuat sungai tersumbat sampah. Jika air melimpah, air akan keluar dari sungai karena daya tampung saluran berkurang.
 Kawasan padat penduduk di sepanjang sungai/drainase dapat menjadi penghambat aliran dan daya tampung sungai. Masalah kawasan kumuh dikenal sangat penting sebagai faktor sosial terhadap masalah banjir daerah perkotaan.
Pemeliharaan kurang memadai pada bangunan pengendali banjir dapatmenimbulkan kerusakan dan akhirnya tidak berfungsi dapat meningkatkan kuantitas banjir.




2.      Ciri ciri teks eksplanasi yang berjudul “ Banjir
1.      Dari segi isi :
1)   Terdiri dari dua keadaan/ peristiwa.
2)   Dua peristiwa tersebut memiliki hubungan sebab akibat.
3)   Menjelaskan keadaan / peristiwa alam dan sosial.
4)   Strukturnya terdiri dari pernyataan umum, lalu diikuti dengan urutan sebab akibat
2.      Dari segi bahasa :
1)   Banyak ditemukan konjungsi sebab.
2)   Banyak ditemukan konjungsi akibat.
3)   Banyak ditemukan kalimat yang menggunakan verba material.
4)   Banyak ditemukan kalimat yang menggunakan verba relasional.
5)   Banyak ditemukan konjungsi waktu yang menyatakan sebab.
6)   Banyak ditemukan konjungsi internal.
7)   Banyak ditemukan konjungsi eksternal.

3.      Kebahasaan teks eksplanasi yang berjudul “Banjir”
1.   Konjungsi sebab
Contoh kalimat:
1.   Banjir terjadi karena alam dan tindakan manusia.
2.   Karena tetes hujan berukuran besar, pori pori permukaan tanah akan tertutup.
3.   Jika air melimpah, air akan keluar dari sungai sebab daya tampung saluran berkurang.





2.      Konjungsi Akibat
Contoh kalimat:
1.      Sebagai akibat perubahan tata guna lahan, terjadi erosi sehingga sedimentasi masuk ke sungai dan daya tampung sungai menjadi  berkurang.
2.      Tetes hujan memiliki ukuran yang sangat besar. Oleh karena itu, pori-pori permukaan tanah tertutup.
3.      Kawasan padat penduduk di sepanjang sungai pat menjadi penghambat aliran sungai. Oleh sebab itu, penting sebagai faktor social terhadap masalah banjir daerah perkotaan.
3.      Konjungsi Waktu
Contoh kalimat:
1.      Setelah hujan turun berturut-turut tanpa henti, debit air sungai meningkat 30 % dari debit air semula.
2.      Ketika debit air sungai melebihi air sungai, air akan meluap dan menabrak segala sesuatu yang ada dihadapannya.
3.      Sejak kejadian banjir kemarin, masyarakat tidak lagi membuang sampah ke sungai.






4.      Konjungsi Internal
1.       


5.      Konjungsi eksternal
1.      Perbandingan (
Contoh kalimat:
1.      Aliran ini akan memasuki daerah tangkapan atau daerah aliran menuju kesistem jaringan sungai.
2.      Kecenderungan kapasitas seluran drainase menurun sehingga menyebabkan aliran permukaan meningkat.
3.      Air akan keluar dari sungai karena daya tampung saluran berkurang.







6.      Verba Material
Contoh kalimat :
1.      Apabila kondisi tanahnya relatif tetap, air yang meresap ke dalam tanah akan relatif tetap.
2.      Hujan yang jatuh ke tanah airnya akan menjadi aliran permukaan (run-off) di atas tanah dan sebagian meresap ke dalam tanah, yang tentunya bergantung pada kondisi tanahnya.
3.      Air akan meluap dari sungai, lalu menabrak segala sesuatu yang ada di hadapannya.
7.      Verba Relasional
Contoh kalimat:
1.      Pembuangan sampah di DAS membuat sungai tersumbat sampah.
2.      Kedenderungan kapasitas saluran drainase menurun sehingga menjadikan aliran permukaan meningkat.
3.      Pemeliharaan kurang memadai pada bangunan pengendali banjir dapat menimbulkan kerusakan yang parah.








Teks Kekeringan

1.      Struktur teks eksplanasi yang berjudul “ Kekeringan ”
NO
STRUKTUR TEKS
PERISTIWA
1.
Pernyataan Umum

Kekeringan merupakan fenomena hidrologi yang paling kompleks, perwujudan dan penambahan isu-isu berkaitan dengan iklim, tata guna lahan, dan norma pemakaian air. Kompleksitas bertambah karena diketahui kekeringan merupakan bencana dengan prosesnya berjalan lambat sehingga dikatakan sebagai bencana merangkak. Kekeringan datang tidak tiba-tiba seperti banjir atau gempa bumi , tetapi timbul perlahan-lahan sehingga sangat mudah diabaikan. Tidak bisa diketahui secara pasti awal dan kapan bencana ini berakhir , tetapi  semua baru sadar setelah berada di periode tengahnya.
2.
Urutan
Sebab Akibat

Kekeringan diklasifikasikan menjadi dua: kekeringan alamiah dan kekeringan antropogenik. Kekeringan alamiah terjadi akibat tingkat curah hujan di bawah normal dalam satu musim, kekurangan pasokan air permukaan dan air tanah, kekurangan kandungan air di dalam tanah sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan tanaman tertentu pada periode waktu tertentu pada wilayah yang luas, pasokan komoditi ekonomi kurang dari kebutuhan normal. Kekeringan antropogenik adalah kekeringan yang disebabkan oleh ketidakpatuhan pada aturan.
Kekeringan antropogenik terjadi karena kebutuhan air lebih besar dari pasokan yang direncanakan akibat ketidak-patuhan pengguna terhadap pola tanam/pola penggunaan air dan kerusakan kawasan tangkapan air, sumber  air akibat perbuatan manusia.
3.
Urutan
Sebab Akibat

Iklim
 Kekeringan di Indonesia sangat berkaitan dengan fenomena ENSO (El-Nino Southern Oscilation). El-Nino adalah kondisi abnormal iklim yang mengakibatkan kemarau panjang. Pengaruh El-Nino lebih kuat pada musim kemarau dibandingkan pada musim hujan. Pengaruh El-Nino pada keragaman hujan memiliki beberapa pola, yakni akhir musim kemarau mundur dari normal; awal masuk musim hujan
mundur dari normal; curah hujan musim kemarau turun tajam jika dibandingkan dengan normal ; deret hari kering makin panjang, khususnya di daerah Indonesia bagian timur.
4.
Urutan
Sebab-Akibat
Tata Guna Lahan
Semakin meningkatnya jumlah luas lahan pertanian yang diubah menjadi permukiman  dapat mengakibatkan semakin menurunnya jumlah air resapan. Hal ini mengakibatkan aliran permukaan meningkat. Peningkatan ini menyebabkan air yang seharusnya tertampung di dalam tanah menjadi terbawa aliran permukaan sehingga terjadi kekurangan pasokan air permukaan dan air tanah.
5.
Urutan
Sebab-Akibat
Norma Pemakaian Air
Penggunaan air yang berlebihan pada waktu musim tanam di lahan pertanian pada industri dan pada rumah tangga menyebabkan menurunnya jumlah air padawaktu musim kemarau.
B.     Teks Tanah Longsor
1. Struktur Teks eksplanasi yang berjudul “ Tanah Longsor ”
NO
STRUKTUR TEKS
PERISTIWA
1.
Pernyataan Umum

Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng dunia, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan lempeng India-Australia yang bergerak saling menumbuk. Akibat tumbukan  antarlempeng tersebut, terbentuk  daerah yang memanjang di sebelah barat Pulau Sumatra, sebelah selatan Pulau Jawa, hingga ke Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara, sebelah utara Kepulauan Maluku, dan sebelah utara Papua. Konsekuensi lain dari tumbukan  tersebut adalah terbentuknya palung samudra, lipatan, punggungan dan patahan di busur kepulauan, sebaran gunung api, dan sebaran sumber gempa bumi. Gunung api yang ada di Indonesia berjumlah
129 atau 13 persen dari jumlah gunung api aktif dunia. Dengan demikian, Indonesia rawan terhadap bencana letusan gunung api dan gempa bumi. Di beberapa pantai, dengan bentuk pantai sedang hingga curam, jika terjadi gempa bumi dengan sumber di dasar laut atau samudra, dapat menimbulkan gelombang tsunami.
Jenis tanah pelapukan yang sering dijumpai di Indonesia adalah hasil letusan gunung api. Tanah ini memiliki komposisi sebagian besar lempung dengan sedikit pasir dan bersifat subur. Tanah pelapukan yang berada di atas batuan kedap air pada perbukitan/punggungan dengan kemiringan sedang hingga terjal, berpotensi mengakibatkan tanah longsor pada musim hujan dengan curah hujan berkuantitas tinggi. Jika perbukitan tersebut tidak ada tanaman keras berakar kuat dan dalam, kawasan tersebut rawan bencana tanah longsor.
Pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng lebih besar daripada gaya penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan tanah, sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut lereng, air, beban, serta berat jenis tanah/batuan.
2.
Urutan
Sebab Akibat

1.  Hujan
Ancaman tanah longsor biasanya dimulai pada bulan November seiring dengan meningkatnya intensitas hujan. Musim kering yang panjang akan menyebabkan terjadinya penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah besar, lalu muncullah pori-pori atau rongga tanah, kemudian terjadi retakan dan rekahan tanah di permukaan. Pada saat hujan air akan menyusup ke bagian yang retak. Tanah pun dengan cepat mengembang kembali. Pada awal musim hujan kandungan air pada tanah menjadi jenuh dalam waktu singkat. Hujan lebat pada awal musim dapat menimbulkan longsor. Melalui tanah yang merekah itulah air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar lereng sehingga menimbulkan gerakan lateral. Apabila ada pepohonan di permukaan, pelongsoran dapat dicegah karena air akan diserap oleh tumbuhan.  Akar tumbuhan juga berfungsi sebagai pengikat tanah.
3.
Urutan
Sebab Akibat

2.   Lereng Terjal
Lereng atau tebing yang terjal akan memperbesar gaya pendorong. Lereng yang terjal terbentuk karena pengikisan air sungai, mata air, air laut, dan angin. Kebanyakan sudut lereng yang menyebabkan longsor adalah 180 apabila ujung lerengnya terjal dan bidang longsorannya mendatar.
4.
Urutan
Sebab Akibat

3.Tanah yang Kurang Padat dan Tebal
Jenis tanah yang kurang padat adalah tanah lempung atau tanah liat dengan ketebalan lebih dari 2,5 meter dan sudut lereng > 220. Tanah jenis ini memiliki potensi  terjadinya tanah longsor, terutama bila terjadi hujan. Selain itu, jenis tanah ini sangat rentan terhadap pergerakan tanah karena menjadi lembek jika terkena air dan pecah jika udara terlalu panas.
5.
Urutan
Sebab-Akibat
4.Batuan yang Kurang Kuat
Pada umumnya batuan endapan gunung api dan batuan sedimen berukuran pasir dan campuran antara kerikil, pasir, dan lempung kurang kuat. Batuan tersebut akan mudah menjadi tanah jika mengalami proses pelapukan dan pada umumnya rentan terhadap tanah longsor apabila terdapat pada lereng yang terjal.
6.
Urutan
Sebab-Akibat
5.Jenis Tata Lahan
Tanah longsor banyak terjadi di daerah tata lahan persawahan, perladangan, dan adanya genangan air di lereng yang terjal. Pada lahan persawahan akar tanaman kurang kuat untuk mengikat butir tanah dan membuat tanah menjadi lembek dan jenuh dengan air sehingga mudah terjadi longsor. Untuk daerah perladangan penyebabnya adalah karena akar pohon tidak dapat menembus bidang longsoran yang dalam dan pada umumnya terjadi di daerah longsoran lama.
7.
Urutan
Sebab-Akibat
6.   Getaran
Getaran yang terjadi biasanya diakibatkan oleh gempa bumi, ledakan, getaran mesin, dan getaran lalu-lintas kendaraan. Akibat yang ditimbulkannya adalah tanah, badan jalan, lantai, dan dinding rumah menjadi retak.
8.
Urutan
Sebab-Akibat
7.   Susut Muka Air Danau atau Bendungan
Akibat susutnya muka air yang cepat di danau, gaya penahan lereng menjadi hilang, dengan sudut kemiringan waduk 220 mudah terjadi longsoran dan penurunan tanah yang biasanya diikuti oleh retakan.
9.
Urutan
Sebab-Akibat
8.   Adanya Beban Tambahan
Adanya beban tambahan seperti beban bangunan pada lereng dan kendaraan akan memperbesar gaya pendorong terjadinya longsor, terutama di sekitar tikungan jalan pada daerah lembah. Akibatnya adalah sering terjadi penurunan tanah dan retakan yang arahnya ke lembah.
10.
Urutan
Sebab-Akibat
9.   Pengikisan/Erosi
Pengikisan banyak disebabkan oleh air sungai ke arah tebing. Selain itu, akibat penggundulan hutan di sekitar tikungan sungai, tebing akan menjadi terjal.
11.
Urutan
Sebab-Akibat
10.     Adanya Material Timbunan pada Tebing

Untuk mengembangkan dan memperluas lahan permukiman   umumnya dilakukan pemotongan tebing dan penimbunan  lembah. Tanah timbunan pada lembah tersebut belum terpadatkan sempurna seperti tanah asli yang berada di bawahnya. Sehingga apabila hujan akan terjadi penurunan  tanah yang kemudian diikuti dengan retakan tanah.
12.

Urutan
Sebab-Akibat

11.                  Bekas Longsoran Lama

Longsoran lama pada umumnya terjadi selama dan setelah terjadi pengendapan material gunung api pada lereng yang relatif terjal atau pada saat atau sesudah terjadi patahan kulit bumi. Bekas longsoran lama memilki ciri: adanya tebing terjal yang panjang melengkung membentuk tapal kudal; umumnya dijumpai mata air, pepohonan yang relatif tebal karena tanahnya gembur dan subur; daerah badan longsor bagian atas umumnya relatif landai; dijumpai longsoran kecil, terutama pada tebing lembah; dijumpai tebing-tebing relatif terjal yang merupakan bekas longsoran kecil pada longsoran lama; dijumpai alur lembah dan pada tebingnya dijumpai retakan dan longsoran kecil; longsoran lama ini cukup luas.

Bidang tidak sinambung ini memiliki ciri: bidang perlapisan batuan; bidang kontak antara tanah penutup dan batuan dasar; bidang kontak antara batuan yang retak-retak dan batuan yang kuat; bidang kontak antara batuan yang dapat melewatkan air dan batuan yang tidak melewatkan air (kedap air); bidang kontak antara tanah yang lembek dan tanah yang padat; bidang-bidang tersebut merupakan bidang lemah dan dapat berfungsi sebagai bidang luncuran tanah longsor.
14.
Urutan
Sebab-Akibat
13. Penggundulan Hutan
Tanah longsor pada umumnya banyak terjadi di daerah yang relatif gundul karena  pengikatan air tanah sangat kurang.
15.
Urutan
Sebab-Akibat
14. Daerah Pembuangan Sampah
Penggunaan lapisan tanah yang rendah untuk pembuangan sampah dalam jumlah banyak dapat mengakibatkan tanah longsor, apalagi ditambah dengan guyuran hujan, seperti yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Leuwigajah di Cimahi. Bencana ini menyebabkan sekitar 120 orang lebih meninggal.















C.   Teks Erosi

1.      Struktur teks eksplanasi yang berjudul “ Erosi
NO
STRUKTUR TEKS
PERISTIWA
1.
Pernyataan Umum

Erosi adalah suatu proses atau peristiwa hilangnya lapisan permukaan tanah atas, baik disebabkan oleh pergerakan air maupun angin. Erosi merupakan tiga proses yang berurutan, yaitu pelepasan partikel tunggal dari massa tanah, pengangkutan oleh media yang erosif seperti aliran air dan angin, dan pengendapan bahan-bahan tanah oleh penyebab erosi, pada kondisi ketika energi yang tersedia tidak cukup lagi untuk mengangkut partikel. Di daerah-daerah tropis yang lembab seperti di Indonesia, air merupakan penyebab utama terjadinya erosi, sedangkan untuk daerah-daerah panas yang kering, angin merupakan faktor penyebab utamanya.
2.
Urutan
Sebab Akibat

Percikan air hujan merupakan media utama pelepasan partikel tanah pada erosi yang disebabkan oleh air. Pada saat butiran air hujan mengenai permukaan tanah yang gundul, partikel tanah terlepas dan terlempar ke udara. Karena gravitasi bumi, partikel tersebut jatuh kembali ke bumi. Pada lahan miring partikel tanah tersebar ke arah bawah searah lereng. Partikel tanah yang terlepas akan menyumbat pori-pori tanah. Percikan air hujan juga menimbulkan pembentukan lapisan tanah keras pada lapisan permukaan. Hal ini mengakibatkan menurunnya kapasitas dan laju infiltrasi tanah. Pada kondisi ketika intensitas hujan melebihi laju infiltrasi, akan terjadi genangan air di permukaan tanah, yang kemudian akan menjadi aliran permukaan. Aliran permukaan ini menyediakan energi untuk mengangkut partikel yang terlepas, baik oleh percikan air hujan maupun oleh adanya aliran permukaan itu sendiri. Pada saat energi aliran permukaan menurun dan tidak mampu lagi mengangkut partikel tanah yang terlepas, partikel tanah tersebut akan mengendap baik untuk sementara maupun tetap.
3.
Urutan
Sebab Akibat

Proses pengendapan sementara terjadi pada lereng yang bergelombang, yaitu bagian lereng yang cekung akan menampung endapan partikel yang hanyut untuk sementara dan pada hujan berikutnya endapan ini akan terangkut kembali menuju dataran rendah atau sungai. Pengendapan akhir terjadi pada kaki bukit yang relatif datar, sungai, dan waduk. Pada daerah aliran sungai, partikel dan unsur hara yang larut dalam aliran permukaan akan mengalir dan mengendap ke sungai dan waduk sehingga menyebabkan pendangkalan.
4.
Urutan
Sebab-Akibat
Besarnya erosi bergantung pada kuantitas suplai material yang terlepas dan kapasitas media pengangkut. Jika media pengangkut mempunyai kapasitas lebih besar daripada suplai material yang terlepas, proses erosi dibatasi oleh pelepasan. Sebaliknya, jika kuantitas suplai materi melebihi kapasitas, proses erosi dibatasi oleh kapasitas.




KEBAHASAAN


1.      Konjungsi sebab
Konjungsi sebab adalah konjungsi yang menyatakan sebab.
Contoh kalimat :
1.      Apabila ada pepohonan di permukaan, pelongsoran dapat dicegah sebab air akan diserap oleh tumbuhan.
2.      Lereng yang terjal terbentuk karena pengikisan air sungai, mata air, air laut, dan angin.
3.      Kekeringan antropogenik terjadi karena kebutuhan air lebih besar dari pasokan yang direncanakan.

2.      Konjungsi akibat
Konjungsi akibat adalah konjungsi yang menyatakan akibat.
Contoh kalimat :
1.      Melalui tanah yang merekah itulah air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar lereng sehingga menimbulkan gerakan lateral.
2.      Sebagai akibat perubahan tata guna lahan, terjadi erosi sehingga sedimentasi masuk sungai dan daya tampung sungai menjadi berkurang.




3.      Akibat adanya peningkatan jumlah penduduk, kebutuhan infrastruktur, terutama pemukiman akan meningkat, sehingga mengubah sifat dan karakteristik tata guna lahan.
4.      Oleh sebab itu, ada aliran pemukiman tanah menjadi sungai dan hal ini berakibatkan adanya peningkatan debit aliran sungai yang besar.
5.      Kekeringan alamiah terjadi akibat tingkat hujan dibawah normal sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan tanah tertentu.

3.      Konjungsi waktu
Konjungsi waktu adalah konjungsi yang menyatakan waktu.
Contoh kalimat :
1.      Musim kering yang panjang akan menyebabkan terjadinya penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah besar, lalu muncullah pori-pori atau rangka tanah.
2.      Kemudian terjadi retakan dan rekahan tanah dipermukaan.
3.      Longsoran lama pada umumnya terjadi selama dan setelah terjadi pengendapan material gunung api pada lereng yang relatif terjal.
4.      Air tidak akan surut, sebelum adanya upaya dari pemerintah.
5.      Pertama, hujan turun dengan intensitas tinggi kemudian air hujan yang jatuh di daerah yang kurang resapan akan terjadi banjir.

4.      Konjungsi internal
Konjungsi internal merupakan konjungsi yang menghubungkan argumen atau ide yang terdapat di antara dua klausa simpleks atau dua kelompok klausa.





Contoh kalimat :
1.      Perbandingan (akan tetapi, sebaliknya, sementara itu, di sisi lain)
1.   Pada daerah yang kering air merupakan faktor yang sangat diperlukan, sebaliknya pada daerah yang kelebihan air, bisa jadi air merupakan hal berbahaya.
2.   Kekeringan mungkin tidak bisa ditangani secara langsung akan tetapi, bisa dicegah dengan cara menghemat air.
3.   Indonesia merupakan Negara dengan jumlah penduduk yang terbanyak ke-4 didunia. Sementara itu, pesatnya pertumbuhan penduduk bisa saja tidak diimbangi dengan pesatnya sarana social.
2.   Penambahan
1.      Tanah longsor bisa saja menyebabkan trauma bagi para korban. Selain itu, para korban juga mendapat kerugian yang cukup besar.
2.      Indonesia merupakan Negara dengan jumlah perokok terbanyak ke-3 di dunia. Disamping itu, jumlah perokok bisa saja terus bertambah setiap tahunnya.
3.      Pemerintah mewaspadai adanya bakteri berbahaya pada buah apel inport. Lebih lanjut, pemerintah mungkin akan melakukan operasi penjual buah pada  pasar terbuka.
3.   Waktu           
1.      Bencana telah usai, lalu mereka akan mencoba untuk membangun rumah mereka kembali.
2.      Tanah longsor menghantam rumah-rumah, berikutnya para wargapun menjerit melihatnya.
3.      Pertama, hujan turun ke bumi dan air akan mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah.

4.      Sebab akibat
1.   Melukai atau mengikatkan batang pohon dengan kawat mungkin saja bisa menghambat pertumbuhan pohon akibatnya pohon sulit berbuah.
2.   Makanan yang dijual dijalanan mungkin saja mengandung banyak zat berbahaya hasilnya banyak orang yang terserang penyakit.
3.   Bencana tanah longsor yang terjadi saat ini sangatlah parah. Sebagai akibatnya pemerntah harus mengerahkan personil tim SAR sebanyak lima puluh orang.

5.      Konjungsi eksternal
Konjungsi eksternal merupakan konjungsi yang menghubungkan dua peristiwa, deskripsi benda, atau kualitas di dalam klausa kompleks atau antara dua klausa simpleks.
Contoh kalimat :
1.       
2.      Proses pengambilan air oleh akar tanaman dan penguapan dari dalam tanah. ( penambahan )
3.      Aliran ini akan memasuki daerah tangkapan atau daerah aliran menuju kesistem jaringan sungai. ( penambahan )
4.      Jika temperatur udara turun sampai di bawah 00 celcius, butiran air akan berubah menjadi salju. (sebab akibat)
5.      Tidak bisa diketahui secara pasti awan dan kapan bencana ini berakhir, tetapi semua baru sadar setelah berada di periode tengahnya. (perbandingan)
6.      Tanah longsor pada umumnya banyak terjadi di daerah yang relatif gundul karena pengikatan air tanah sangat kurang. ( sebab akibat )
4.   waktu
5.      Sebelum pencarian korban Air Asia mencapai titik temu, bisa saja pencarian akan dihentikan.
Setelah  bencana longsor terjadi di Banjarnegara, banyak pihak yang merasa empati dan akhirnya memberikan bantuan kepada para korban












6.      Verba Material
Verba material adalah kata kerja yang menyatakan perbuatan fisik atau peristiwa.
Contoh kalimat :
1.      Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng dunia, yaitu lereng Eurasia, lempeng Pasifik dan lempeng India-Australia yang bergerak saling menumbuk.
2.      Pada saat hujan air akan menyusup kebagian yang retak.
3.      Kekeringan merupakan bencana yang datang secara spontan dan perlahan-lahan sehingga sangat mudah diabaikan.
4.      Apabila kondisi tanahnya relafif tetap, air yang meresap ke dalam tanah akan relatif tetap.
5.      Dalam sistem sungai aliran mengalir dari sistem sungai kecil kesistem sungai yang besar.

7.      Verba Relasional
Verba relasional adalah kata kerja yang  menunjukkan hubungan sebab-akibat.
Contoh kalimat :
1.      Kedenderungan kapasitas saluran drainase menurun sehingga menyebabkan aliran permukaan meningkat.
2.      Pembuangan sampah di DAS membuat sungai tersumbat sampah.
3.      Pemeliharaan kurang memadai pada bangunan pengendali banjir dapat menimbulkan kerusakan yang parah.
4.      El-Nino adalah kondisi abnormal iklim yang mengakibatkan kemarau panjang.
5.      Temperatur yang berada di bawah titik beku mengakibatkan kristal  es terbentuk.


8.      Kalimat Simpleks
Kalimat simpleks adalah klausa yang terdiri atas satu verba utama yang menggambarkan aksi, peristiwa, atau keadaan.
Contoh kalimat :
1.      Hujan lebat pada awal musim dapat menimbulkan longsor.
2.      Pada saat hujan air akan menyusup ke bagian yang retak.
3.      Air pasang memperlambat aliran sungai ke laut.
4.      Sebaliknya, limpusan air hujan menjadi sangat besar.
5.      Kekeringan antropogenik disebabkan oleh manusia.

9.      Kalimat Kompleks
Kalimat kompleks adalah kalimat yang terdiri atas lebih dari satu aksi, peristiwa, atau keadaan sehingga mempunyai lebih dari satu verba utama dalam lebih dari satu struktur.
Contoh kalimat :
1.      Pada saat hujan air akan menyusup ke bagian yang retak dan tanah pun dengan cepat mengembang kembali.
2.      Bantuan tersebut akan mudah menjadi tanah jika mengalami proses pelapukan dan pada umumnya rentah terhadap tanah longsor apabila terdapat pada lereng yang terjal.
3.      Lereng yang terjal terbentuk karena pengikisan air sungai, mata air, air laut, dan angin.
4.      Butir-butir air terjadi karena tetesan air kecil ( tiny droplet ) yang timbul akibat kondensasi berbenturan dengan tetesan air lainya.
5.      Butiran-butiran air yang turun ke bumi disebut dengan hujan, jika temperatur udara turun sampai dibawah 00 celcius, butiran-butiran air akan menjadi salju.


10.  Kata Serapan
Kata serapan adalah kata yang berasal dari bahasa lain (bahasa daerah/bahasa luar negeri) yang kemudian ejaan, ucapan, dan tulisannya disesuaikan dengan penuturan masyarakat Indonesia untuk memperkaya kosa kata.
Contoh kalimat :
1.      Kekeringan merupakan proses hidrologi yang paling kompleks. Kompleks artinya mengandung beberapa unsur yang pelik, rumit, sulit, dan saling berbubungan.
2.      Akibat kekeringan, pasokan komoditi ekonomi kurang dari kebutuhan normal. Komodit artinya barang dagangan utama / benda niaga.
3.      Tanah ini memiliki komposisi sebagian besar lempung dengan sedikit pasir dan bersifat subur. Komposisi artinya susunan atau tata susun.
4.      Faktor penutup lahan vegetasi cukup signifikan dalam pengurangan atau peningkatan aliran permukaan.Vegetasi artinya kehidupan dunia tumbuh-tumbuhan atau dunia tanam-tanaman.
5.      Pada kondisi ketika intensitas hujan melebihi laju infiltrasi, akan terjadi genangan air di permukaan tanah, yang kemudian akan menjadi aliran permukaan. Infiltrasi artinya penyusupan atau perembesan











Fenol //  /// senyawa Kristal beracun yang terdapat didalam hasil pembakaran karang atau kayu ..
. gastritis // peradangan selaput lender pada lambung
. industri // kegiatan memproses atau mengolah barang dengan menggunakan sarana dan peralatan
. infeksi // terkena hama, kemasukan bibit penyakit, ketularan penyakit.
. iritasi // gangguan, perangsangan.
. konspirasi // komplotan, persekongkolan.
. krisis // keadaan yang berbahaya.
. prasarana // segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terlaksananya suatu proses. ( usaha, pembangunan, proyek, dsb)
. psikis // yang berhubungan dengan psike.
. volume // isi atau besarnbya benda di ruang.